1 2 3 4 5 6

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ - Korespondensi kosmologi dan psikologi

səhifə2/6
tarix26.10.2017
ölçüsü464.36 Kb.

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

(

الزاريات

: 49)

(Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ ءَاتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

(

الأعراف

: 189)

(Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan Dia menciptakan dari jiwa yang satu itu isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur").

خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

(

الزمر

:6)

(Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya pasangannya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan pasangan dari binatang ternak; Yang menciptakanmu dalam perut ibumu dalam tahapan-tahapan penciptaan: dalam kegelapan selama tiga tahapan. Itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain-Nya; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?).

فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى

(

القيامة

: 39)

(Lalu Allah menjadikan daripadanya pasangan laki laki dan perempuan).

وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى

(

النجم

:45)

(Dan bahwa Dialah yang menciptakan keberpasangan laki-laki dan perempuan).

فِيهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ

(

الرمن

:52)

(Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan).

وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

(

ق

:7)

(Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya setiap pasangan yang indah).

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الْأَرْضِ كَمْ أَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ

(

الشعراء

: 7)

(Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, begitu banyak Kami tumbuhkan di dalamya setiap pasangan yang mengagumkan?)

وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

(

الرعد

: 3)

(Dan Dialah Tuhan yang menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan sungai-sungai. Dan menjadikan setiap buah-buahan berpasang-pasangan. Allah menutup malam dengan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan).

2. Ru>h} Allah pada Manusia

Qs. Al-Hijr: 29 dan S{a>d: 72 menunjukkan bahwa Allah membuat sempurna kejadian manusia dengan tiupan ru>h} Allah ke dalam diri manusia. Proses penyempurnaan kejadian manusia ini dapat dipahami dengan berbagai cara. Di antaranya dengan mendasarkan diri pada prinsip keberpasangan yang sudah dijelaskan di atas. Al-Qur’an di banyak tempat mengungkapkan bahwa penciptaan manusia (dalam hal ini, sebagian menggunakan prototipe manusia, yaitu Adam) menggunakan bahan tanah (dengan beberapa sifat atau karakter tanahnya). Tanah merupakan bagian dari bumi, dan bumi dalam pemikiran tradisi kearifan Islam, termasuk pemikiran para kosmolog Muslim dan para sufi, dipandang merupakan simbol dari entitas rendah. Jasmani manusia yang terbuat dari tanah dengan sendirinya dapat berarti dimensi rendah manusia. Dengan demikian, jika jasmani di pandang sebagai “yang rendah” dalam diri manusia, maka hal itu dapat dipandang tidak sempurna karena pasangan rendah tidak ditemukan, yaitu “yang tinggi.” Seperti halnya dalam makrokosmos, bumi tidak berarti tanpa langit; sebaliknya, langit pun tak akan aktual tanpa adanya bumi. Dalam konteks pemikiran Ibnu ‘Arabi, pada tataran ini manusia belum sempurna, belum menjadi al-kawn al-ja>mi‘, belum menjadi al-insa>n al-ka>mil atau al-kita>b al-ja>mi‘ karena dalam dirinya hanya mencakup dimensi khalqiyyah atau dimensi penciptaan semata, sehingga sama saja dengan makhluk lainnya.

Dengan ditiupkannya Ru>h} Ilahi, maka dalam diri manusia ada dimensi langit, yang merupakan dimensi ketinggian, sebagai pelengkap dimensi bumi yang dipresentasikan oleh aspek jasmaninya. Dalam beberapa keterangan, dimensi langit atau dimensi ketinggian ini disebut dengan istilah al-‘a>lam al-malaku>t (atau alam gaib, alam ru>h}a>ni>, alam batin), yang dikontraskan dengan al-‘a>lam al-mulk (atau alam syahadah, alam jasma>ni)>. Dengan demikian ditupkannya ru>h} Allah juga berarti melengkapi dimensi lahiriah manusia dengan dimensi batiniah, alam syahadah dengan alam gaibnya, atau alam manusianya (nasu>t-nya dengan malaku>t atau lahu>t-nya). Keberadaan alam malakut yang bersandingan dengan alam mulk, atau alam gaib yang bersanding dengan alam syahadah ini didukung oleh banyak ayat al-Qur’an dan al-Hadis. Bahkan, al-Qur’an mengungkapkan dengan lebih jelas dalam kerangka korespondensi manusia, kosmos, dan Allah, bahwa segala sesuatu ada malakutnya, yakni sisi gaibnya, yang selaras dengan sifat-sifat Nyata dan Tersembunyi-Nya Allah. Dengan demikian, itu pun merupakan tanda-tanda Allah. Di antara ayat-ayat tentang ini dikutipkan berikut ini:

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ

)

الأنعام

: 75)

(Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin).

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ

(

ألأعراف

:185)

(Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada Al Qur'an itu?)

قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

(

المؤمنون

: 88)

(Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab) -Nya, jika kamu mengetahui?").

فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

(

يس

:83)

(Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan).

Dimensi langit dan dan dimensi bumi dalam diri manusia, di samping berarti menghubungkan—atau juga meyatukan—yang rendah dengan yang tinggi, juga mengaktualisasikan hubungan-hubungan aktif-reseptif dalam berbagai tataran kehidupan manusia. Dalam diri manusia langit dan bumi, seperti halnya dalam kosmos, tidaklah tunggal. Ada banyak langit dan ada banyak bumi, tergantung pada tataran mana yang sedang dibicarakan. Dari sudut penciptaan, semua tataran ini mengikuti prinsip aktif-reseptif. Langit bersifat aktif dalam hubungannya dengan bumi; sebaliknya, bumi bersifat reseptif dalam hubungannya dengan langit. Dengan demikian ruh manusia bersifat aktif dalam hubungannya dengan tubuh; dan tubuh bersifat reseptif dalam hubungannya dengan ruh. Jika hubungan-hubungan aktif-reseptif ini berubah atau dikacaukan, maka kehidupan manusia, selanjutnya kehidupan alam semesta akan menjadi kacau pula. Dalam al-Qur’an banyak isyarat ke arah ini, seperti kekacauan pada tataran kehidupan manusia akibat manusia (dalam hal ini jiwa atau ruhaninya) justeru tunduk kepada hawa nafsunya, yang berarti yang tinggi beralih menyimpang dari sifat aktif menjadi reseptif.

Ru>h} Allah dalam diri manusia, dengan cara lain, juga menunjukkan teraktualisasinya pasangan gelap dan terang dalam diri manusia, karena ru>h} Allah adalah nu>rulla>h (Cahaya Allah),16 sedangkan jasmani manusia mencerminkan kegelapan.

Cahaya juga melambangkan kemuliaan, kesenangan, dan keadilan; sementara gelap melambangkan kehinaan, kesusahan, dan kekacauan. Teraktualisasinya keberpasangan cahaya dan kegelapan dalam diri manusia, selanjutnya berarti terbukanya peluang dan terentangnya jarak jangkau manusia yang demikian luas pada aras itu. Manusia bisa turun naik dari yang rendah kepada yang tinggi, dan keluar masuk ke dalam ruang bercahaya dan ruang kegelapan. Tampaknya prinsip eksistensial inilah yang terungkap dalam ayat Qs. At-Ti>n: 4-5, yang telah dikutip di atas.

Dalam teks ayat Ru>h} di atas, ruha disebut dalam bentuk tunggal (mufrad, singular), bukan arwa>h, bentuk jamaknya. Sifat tunggal atau singular ini membawakan sifat Esa-Nya Allah, dan ru>h} dengan demikian merupakan kesatuan (unity) dan singularitas pertama pada tataran makhluk, sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya bahwa ru>h} adalah makhluk pertama ciptaan Allah. Ciptaan-ciptaan Allah di bawah ru>h} atau yang merupakan turunan ru>h} semuanya menujukkan keragaman dan multiplisitas. Dalam konteks psikologis, banyak pengarang yang menunjukkan bahwa ar-ru>h} dalam diri manusia juga bersifat sederhana (simple, basi>t}). Selanjutnya dari kesederhanaan (atau kesatuan) ini muncul keragaman atau multiplisitas, seperti munculnya akal, hati, dan nafsu. Ar-Ru>h} yang sederhana, yang merupakan kesatuan, dapat dibayangkan pada posisi atas dalam spiritualitas (jiwa) manusia, dan yang paling bawah dari jiwa ini adalah nafsu (nafs, atau hawa nafsu). Ini menyiratkan adanya struktur jiwa dari yang paling rendah sampai paling tinggi, sekaligus mengilustrasikan tingkatan-tingkatan yang harus dilalui oleh manusia dalam meningkatkan spiritualitasnya. Semakin ke atas—yang pada ujungnya adalah ar-Ru>h}, dan pada akhirnya Allah—spiritualitas manusia semakin bercahaya, dan manusia bergerak dari multiplisitas yang seringkali membingungkan kepada kesatuan yang mendatangkan kedamaian.17

3. Alegori Penciptaan dan Kejatuhan Adam

Kisah-kisah penciptaan Adam dan dijadikan khalifah-Nya, keberatan-keberatan malaikat dan Iblis atas keputusan Allah, pengajaran Allah kepada Adam berupa nama-nama, serta kejatuhan Adam ke bumi, dikemukakan secara gamblang dalam Qs. 2:30-39, yang sengaja dikutipkan di bawah ini:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

(30)

وَعَلَّمَ ءَادَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

(31)

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

(32)

قَالَ يَاآدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ

(33)

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

(34)

وَقُلْنَا يَاآدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

(35)

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ

(36)

فَتَلَقَّى ءَادَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

(37)

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُون َ

(38)

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

(39)

(Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."; Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!"; Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana; Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu rahasiakan?"; Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka mereka bersujud, kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan ia tergolong orang-orang yang ingkar; Dan Kami berfirman: "Hai Adam diamilah surga ini olehmu dan isterimu, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, tapi janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim; Lalu setan menggelincirkan keduanya dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan"; Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang; Kami berfirman: "Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati"; Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya).

Banyak kalangan ahli hikmah yang tertarik merenungkan dan mengungkap makna di balik misteri penciptaan Adam dan kejatuhannya. Perhatian mereka bukan tertuju terutama kepada aspek sejarah atau kisahnya, melainkan berbagai bentuk korespondensi antara manusia, kosmos, dan Allah. Salah satu hikmah yang ingin mereka ungkap adalah pengetahuan tentang keserbamencakupan manusia dibandingkan dengan ciptan lainnya, dan peran yang dapat dan harus dimainkan dalam kerangka hubungan-hubungan kosmologis. Beberapa di antara mereka yang mengungkapkan penghayatannya adalah ‘Abdurrah}ma>n Ja>mi‘, Ikhwa>n as}-S{afa>, dan Najmuddi>n Razi>.

Abdurrah}ma>n Ja>mi‘ menjelaskan secara puitis dalam bait-bait prosanya. Tampak bahwa Jami‘ ingin membuktikan bahwa karena sifat jam’iyyah manusia, maka baik malaikat maupun iblis atau setan tidak akan dapat memahami manusia. Malaikat maupun Iblis—kendatipun keduanya merupakan makhluk-makhluk cemerlang, namun mereka tetap tidak dapat memahami manusia, karena mereka adalah bagian, atau hanya mencerminkan satu bagian dari keseluruhan yang disandang manusia. Penjelasan Jami‘ tersebut dikutip agak panjang oleh Sachiko Murata berikut ini:18

Para malaikat tidak kuasa memahami makna ini. Karena itu, mereka melonggarkan lidah kritik atas Adam dan memberi kesaksian bahwa dia (Adam) akan “berbuat kerusakan dan menumpahkan darah” (Qs. 2:30).

Adalah di lular jangkauan para malaikat untuk memahami kelembutan ini.

Kala Adam diberi jibah kehormatan-Nya, mereka harus berbicara dengan arogansi dan pretensi.

“Ya Allah, kami senantiasa bertasybih memuji-Mu, kami melantunkan pujian kepada-Mu, kami membereskan segala sesuatu. Mengapa engkau mengaduk sebuah bentuk dari air dan tanah, orang yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan banyak darah?”

“Di sini, di gerbang-Mu Engkau punyai makhluk yang mulia.

Apa hikmah dalam menciptakan makhluk kurang utama?”

“Manakala Engkau sudah memiliki sekuntum mawar, apa gunanya duri dan ranting?

“Kala Engkau sudah punya seekor burung phoenix, mengapa Engkau mebutuhkan seekor lalat?”

Kemudian Allah mengajari Adam nama-nama semuanya—yakni realitas segala sesuatu. Dalam pandang kaum arif, “nama-nama Allah” tak lain hanya realitas segala sesuatu yang ada.

Allah ajari Adam masing-masing dari semua nama ini,

Dia beri pengertian tentang sifat-sifat Esensi-Nya.

Kemudian Dia berkata kepada para malaikat, “Sebutkan kepada-Ku nama-nama ini!”

Mereka semua tidak lagi berani bersikap arogan dan sombong.

Masing-masing mengakui ketidak mampuannya sendiri.”Kami hanya mengetahui apa yang telah Engkau ajarkan, kami hanya memahami apa yang telah engkau berikan.

“Ciptaan kami adalah hasil karya-Mu, pengetahuan dan visi kami hanyalah rahmat-Mu.”

“Apa yang telah Engkau tunjukkan kepada kami, kami tahu—apa yang di luar itu kami tiodak tahu.”

Kemudian untuk kedua kalinya Dia membuat seruan ini, kali ini kepada Adam: Sebutkan nama-nama itu kepada-Ku!

“Nama-nama yang dengannya Engkau tampakkan diri, sebab Engkau mengetahui segala rahasia mereka.”

Atas perintah Allah, Adam berbicara , dan menyebutkan nama-nama itu, satu demi satu.

Sebab, bagi segala sesuatu.

Adam adalah keseluruhan, yang lainnya adalah bagian.

Segala sesuatu dalam bagian dijumpai dalam keseluruhan, tapi bagian tidak bisa mencakup keseluruhan.

Tak satu bagian pun yang benar-benar bisa memahami keseluruhan, tapi keseluruhan tahu situasi setiap bagian.

Kala keseluruhan mengetahui dirinya sendiri, maka semua bagian menjadi objek pengetahuannya.

Tapi, jika bagian mengetahui dirinya sendiri, ia tidak bisa mengetahui lebih dari dirinya sendiri—

Sekalipun ia mengetahui dirinya sendiri, ia tetap tidak mengetahui bagian lainnya.

Menjelaskan bahwa anak Adam adalah keseluruhan, sementara segala sesuatu lainnya laksana bagian-bagian:

Apakah seorang anak Adam itu? Barzakh yang serba meliputi, bentuk ciptaan dan Zat Mahabenar ada di dalamnya;

Transkripsi menyeluruh, memaklumkan Esensi Hakiki dan sifat-sifat suci-Nya;

Berhubungan dengan kelembutan-kelembutan Ketakterbandingan, berupa realitas-realitas dalam Kerajaan;

Diri batiniahnya tenggelam dalam samudera Kesatuan, dari lahiriahnya kekeringan di pantai perpisahan.

Tak satu pun dari sifat Allah tidak termasifestasikan dalam esensi-Nya.

Dia Maha Mengetahui, Maha Mendengar, dan Maha Melihat, Maha Berbicara, Berkehendak, Mahahidup, dan Mahakuasa.

Begitu pula dengan realitas-realitas dalam kosmos, masing-masing terejawantah di dalamnya,

Entah wilayah-wilayah samawi atau unsur-unsur, mineral-mineral, tumbuh-tumbuhan, atau hewan-hewan.

Tertulis di dalamnya bentuk kebaikan dan kejahatan,

Bercampur di dalamnya setan dan hewan-hewan tunggangan.

Kalaulah dia bukan cermin Wajah Abadi, mengapa para malaikat bersujud di hadapannya?

Dia adalah refleksi keindahan Kehadiran Suci.

Jika Iblis tak bisa memahami ini, apa yang menjadi masalah?

Semua yang tersembunyi dalam Khazanah Tersembunyi

Allah tampakkan dalam diri Adam.

Eksistensinya adalah penyebab akhir dari manifestasi dan penampakan ciptaan,

Sebab pengetahuan adalah motif bagi penciptaan, dan dia adalah lokus lahiriah bagi kesempurnaan-Nya.

Penjelasan Najmuddi>n Ra>zi> di bawah ini tampaknya lebih menarik, karena mengungkapkan adanya dua busur (qaws) yang sangat penting dalam memahami mengapa Adam mengalami kejatuhan. Kedua busur itu adalah Busur Menurun dan Busur Meningkat yang terentang dari asal-usul (mabda’) dan tujuan akhir atau tempat kembali (ma‘a>d). Dua busur itu terdapat baik dalam makrokosmos maupun mikrokosmos, yang dengan demikian, dalam kedua kategori kosmologis ini terjadi proses menurun dan proses meningkat dalam pengertian yang luas. Penurunan berarti menjauh dari Dunia Ruh yang mewakili keserhanaan dan memasuki Dunia Materi atau Dunia Jasmani yang mencerminkan kemajemukan. Dunia Ruh dengan demikian merupakan tataran atas atau tinggi; sementara Dunia materi adalah dunia yang di bawah atau rendah. Di bawah ini dikutipkan ulasan Ra>zi dimasud berkenaan dengan penciptaan Adam dan kejatuhannya serta sejumlah korespondensi manusia dan kosmos:

Allah berfiman: “Sesungguhnya Aku menciptakan manusi dari tanah” (Qs. 38:71). Nabi bersabda, seraya mengutip firman Allah “Aku mengolah tanah Adam dengan kedua tangan-Ku sendiri selama empat puluh hari.”19

Hendaknya engkau ketahui bahwa manakala dikehendaki untuk membentuk kerangka manusia dari empat unsur—air, api, udara, dan tanah—kesemuanya ini tidak tersimpan dalam sifat kesederhanaan (ba>sit}, simple). Sebaliknya, semuanya itu diturunkan melalui derajat menurun. Derajat turun pertama adalah derajat kemajemukan (murakkaba>t, muliplicity), sebab unsur pada tahap kesederhanaan itu lebih dekat kepada Dunia Ruh (al-a>lam ar-ru>h}a>ni>), seperti telah kami jelaskan. Ketika dikehendaki untuk membawa unsur itu kepada kedudukan kemajuemukan, maka ia mesti meninggalkan kesederhanaan dan bergerak maju menuju kemajemukan. Karena itu, ia turun satu derajat lagi menjauhi Dunia Ruh. Manakala ia tiba pada kedudukan nabati, maka ia harus melewati kedudukan kemajemukan dan keadaan mati. Karena itu, ia turun satu derajat menjauhi Dunia Ruh. Manakala ia sudah meninggalkan wilayah nabati untuk memasuki wilayah hewani, maka ia turun satu derajat lagi. Tidak ada derajat yang lebih rendah dari manusia. Inilah yang disebut “yang paling rendah dari yang rendah” (asfala sa>fili>n, dalam Qs. At-Ti>n: 3-4).”20

Dari kutipan di atas, yakni dengan ilustrasi-ilustrasinya, Ra>zi> juga ingin mengatakan bahwa proses penurunan terjadi ketika menjauh dari Yang Esa menuju kemajemukan duniawi. Berdasarkan makna ini, maka kejatuhan Adam berarti menjauhnya Adam dari Allah, ketika ia melakukan kesalahan, yakni berbuat sesuatu yang dilarang oleh-Nya. Selanjutnya, alegori ini akan berarti setiap tindakan melanggar aturan Allah akan membuat seseorang secara bertahap menurun dalam arti menjauh dari Allah. Kemenjauhan ini dimungkinkan salah satunya oleh sifat totalitas manusia, sekaligus adanya dualitas polar di dalam dirinya. Dua busur menurun dan menaik ada dalam diri manusia. Dalam catatan di atas, penurunan kemanusiaan melalui proses menjauh untuk memasuki dunia di bawah manusia yaitu dunia hewan sampai ke dunia materi atau benda mati. Sebaliknya, proses meningkatkan kemanusiaan berlangsung melalui busur menaik, dalam pengertian naik dari dunia materi kepada dunia hewani, lalu ke dunia ruhani. Ra>zi> selanjutnya mengungkapkan bahwa yang tertinggi dari yang tinggi adalah ruh manusia, sembari menyebutkan sebaliknya, yakni yang terendah dari yang rendah adalah raga manusia.

Kata-kata ini berkaitan dengan unsur-unsur, yang—lewat berbagai keadaan yang senantiasa berubah—turun elewati derajat-derajat menurun yang menandai jauhnya dari ruh-ruh. Akan tetapi, jika Anda melihat Alam Malakut dari benda-benda mati, sesudah melewati beberapa tataran, akhirnya ia sampai pada tataran manusia. Karenanya ini menyangkut derajat yang menaik, dan bukan derajat yang menurun. Pada setiap kedudukan, Alam Malakut bergerak mendekati ruh-ruh itu, dan tidak menjauhinya. Namun, kita sedang berbicara tentang bentuk/ format lahiriah unsur-unsur itu, yang disebut Kerajaan (al-a>lam al-mulk), dan bukan Alam Malakut dari unsur-unsur itu. … Dengan demikian, jelaslah bahwa derajat tertinggi dari yang tinggi adalah ruh manusia, sementara yang terendah dari yang rendah adalah raga manusia. …

Guruku, raja di zamannya, Syaikh Majduddi>n Baghda>di>, mengatakan dalam kumpulan karyanya: “Segala puji bagi Dia yang menyatukan segala yang terdekat dari yang dekat dengan yang terjauh dari yang jauh melalui kekuasaan-Nya!” Raga manusia termasuk ke dalam derajat terendah, sementara ruh manusia termasuk ke dalam derajat tertinggi. Hikmah yang ada dalam hal ini ialah bahwa manusia mesti mengemban beban Amanat—pengetahuan tetang Allah. Karena itu, mereka harus mempunyai kekuatan dalam kedua dunia ini untuk mencapai kesempurnaan (al-kama>l). Sebab, tak ada sesuatu pun di kedua dunia ini yang memiliki kekuatan yang mampu mengemban beban Amanat. Mereka mempunyai kekuatan ini melalui esensi sifat-sifatnya (sifat-sifat ruhnya), bukan melalui raganya.

Karena ruh manusia berkaitan dengan derajat tertinggi dari yang tinggi, maka tak ada sesuatu pun di Dunia Ruh yang bisa menyamai kekuatannya—entah itu malaikat, setan, atau segala sesuatu selainnya. Demikian pula, jiwa (an-nafs) manusia berkaitan dengan derajat yang paling rendah dari yang rendah, sehingga tak ada sesuatu pun di Dunia Jiwa bisa mempunyai kekuatan, entah itu hewan dan binatang buas atau lainnya. …

Ketika mengaduk dan mengolah tanah Adam, semua sifat setan, hewan dan binatang buas, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati diaktualisasikan. Hanya saja, tanah itu dipilih untuk mengejawantahkan sifat “Dua Tangan-ku.” Karenanya, masing-masing sifat tercela ini hanyalah sekedar kulit luar. Dalam setiap sifat itu ada mutiara dan permata berupa sebuah sifat Ilahi. Anda tahu bahwa sinar matahari mengubah batu granit menjadi kerang yang mengandung permata, akik, merah delima, zamrud, dan pirus.

Adam dipilih karena “Aku mengaduk dan mengolah tanah Adam dengan kedua tangan-Ku” selama “empat puluh hari,” dan menurut sebuah hadis, masing-masing hari itu sama dengan seribu tahun. Maka, perhatikanlah—untuk permata yang mana tanah Adam menjadi kulit kerangka? Dan Adam dimuliakan seperti ini sebelum ruh ditiupkan ke dalam dirinya. Inilah peruntungan bagi kerangka tubuh, yang akan menjadi istana khalifah Allah. Selama empat puluh ribu tahun, Dia bekerja dengan status-Nya sebagai Tuhan. Siapa yang tahu khazanah-khazanah apa yang disiapkan-Nya di sana?.21

Salah satu analisis tentang penciptaan dan kejatuhan Adam yang cukup menarik adalah dengan mengaitkan penciptaan dengan cinta dan kejatuhan dengan kekerasan Allah. Analisis ini diungkapkan oleh Ah}mad Sam‘a>ni dalam kita Rawh} al-Arwa>h-nya.

Tuhan menciptakan setiap makhluk sesuai dengan tuntutan kekuasaan, tatapi Dia menciptakan Adam dan anak keturunannya sesuai dengan tuntutan cinta. Dia menciptakan makkhluk lain berkaitan dalam kemenjadian-Nya yang Mahakuat, tetapi Dia menciptakan kamu dalam kaitannya menjadi Sahabat.

Adam masih seorang anak kecil, sehingga Tuhan membawanya ke jalan perawatan. Jalan anak-anak adalah satu hal, tungku perapian para pahlawan adalah hal lain. Adam kemudian dimasukkan ke Surga di pundak para malaikat besar dari kerajaan Tuhan. Surga dijadikan ayunan untuk kebesarannya dan bantal bagi kepemimpinannya, karena dia masih belum mampu menumpu tahta kekerasan.

Tuhan membawa Adam masuk ke taman kelembutan dan mendudukkannya di atas singgasana kebahagiaan. Dia memberinya guci keriangan, satu demi satu. Kemudian Dia mengeluarkannya, membuatnya berduka, membakar, membuatnya meratap Sehingga, sebagaimana Tuhan membiarkan dia mencicipi guci kelembutan pada awalnya, maka juga membuatnya merasakan tegukan kekerasan yang murni, tak tercampur, dan tanpa penyebab.22

Ulasan Sam‘a>ni di atas menjelaskan bahwa dengan penciptaan Adam, nama-nama dan sifat jama>liyyah Allah teraktualisasi, sementara terusirnya Adam dari Surga adalah aktualisasi sifat-sifat dan nama-nama jala>liyyah-Nya. Dalam sebuah penuturannya, Sam‘a>ni> juga menyatakan:

Para malaikat dihormati oleh Kehadiran Ilahi. Masing masing mereka menyembah sambil mengenakan jubahtanpa dosa dan subang kepatuhan. Tetpi, segera setelah giliran bumi tiba, mereka keluar dari puncak kesucian mereka dan menyombongkan diri ‘aku, dan tak ada yang lain.’ Mereka berkata, “Kami senantiasa bertasybih memuji-Mu” (Qs. 2:30).

“Wahai malaikat langit! Meskipun kalian patuh, kallian tidak memiliki hasrat buta dalam jiwamu, tidak pula kallian memiliki kegelapan dalam tubuhmu. Jika manusia durhaka, mereka memiliki hasrat buta dan kegelapan. Kepaatuhan kalian bersama seluruh kekuatan kallian tidaklah berharga setitik debu di hadapan keagungan dan kebesaran-Ku. Dan, kedurhakaan mereka bersama dengan perpisahan dan kepatah-hatian mereka tidak melenyapkan ranah-Ku. Melalui kepatuhan kalian, kalilan mewujudkan kesucian dan kebesaran kalian sendiri; tetapi, melalui kedurhakaan mereka, mereka mewujudkan karunia dn kasih-Ku.”23

Sampai di sini, kisah penciptaan dan kejatuhan Adam, dari sudut pandang tradisi kearifan Islam, lebih banyak merupakan sebuah alegori yang menyimpan berbagai misteri yang patut direnungkan, sekurang-kurangnya untuk dapat mengambil manfaat bagi peningkatan pemahaman terhadap realitas kehidupan manusia yang unik, serta untuk memahami lebih baik hubungan-hubungan kosmologis dan psikologis antara manusia dan kosmos, serta hubungan keduanya dengan Sang Pencipta.



Dostları ilə paylaş:

©2018 Учебные документы
Рады что Вы стали частью нашего образовательного сообщества.
?


--bu-konsepsiyann---2.html

--bunbu-ryodo-ni-tsuite.html

--cei-care-sunt-rudenii-.html

--cf---azrbaycan.html

--cityofnorfolk---11.html