©2018 Учебные документы
Рады что Вы стали частью нашего образовательного сообщества.

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَنْ لاَ يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ - Dien itu nasehat

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَنْ لاَ يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ


Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu sendiri dikarenakan mereka tidak beriman. (as-Syu’ara : 3)

Mestinya hal ini melimpah ruah dalam diri setiap aktivis Islam.


MENGAPA DOA TIDAK (SEGERA) TERKABUL

Di sini saya ingin mengingatkan para aktivis akan suatu hal yang teramat penting. Sangat mungkin ada di antara Anda sekalian yang berdoa kepada Rabbnya, memohon sesuatu, ia terus berdoa dan berdoa, namun selama itu ia tidak segera mendapati doanya terkabul, lalu saat itu juga ia berhenti berdoa dan berputus asa, merasa tidak akan terkabul selamanya. Sesungguhnya inilah larangan Rasulullah  dalam sabda beliau,

يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُوْلُ قَدْ دَعَوْتُ رَبِّيْ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِيْ

Seseorang dari kalian akan terkabul (doanya) selama ia tidak tergesa-gesa, mengucapkan kalimat, “Sungguh, aku telah memohon kepada-Mu, wahai Rabbi, namun belum juga terkabul.”105

Dalam riwayat Muslim; seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu tergesa-gesa?” Beliau menjawab, “Mengatakan ‘Aku telah banyak berdoa tetapi aku tak kunjung melihatnya terkabul.’ lalu ia merasa rugi.”

Hendaknya diketahui bahwa ada banyak faktor keterlambatan terkabulnya sebuah doa. Dan mesti diingat juga bahwa Allah memiliki hikmah di balik keterlambatan ini. Di antara hikmah tersebut sebagai berikut:

Pertama, bisa jadi dikarenakan Anda belum memenuhi syarat wajib doa; tidak menghadirkan hati, waktunya kurang tepat, kurang khusyu’, kurang khudlu’, kurang tadzallul, dan kurangnya adab-adab serta syarat-syarat yang lain.

Kedua, bisa jadi dikarenakan suatu dosa hal mana Anda belum bertaubat darinya, atau taubat Anda belum sungguh-sungguh. Bisa jadi juga dikarenakan adanya syubhat dalam makanan dan minuman Anda atau adanya suatu kezhaliman yang pernah Anda lakukan dan Anda belum sempat meminta maaf kepada pihak yang terzhalimi. Semestinyalah Anda memenuhi semua syarat taubat nashuha dan mengembalikan hak-hak hamba kepada pemiliknya. Ini semua adalah faktor utama tertundanya ijabah. Telah dinyatakan dalam sebuah hadits, “Wahai Sa’ad, makanlah hanya yang halal, niscaya doa-doamu akan terkabul.”

Telah dinyatakan pula dalam sebuah hadits shahih, “Kemudian beliau menyebut ada seseorang dengan rambut acak-acakan dan tubuh penuh debu mengangkat tangannya ke langit seraya memohon, ‘Duhai Rabbi, duhai Rabbi!’ padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram, lalu bagaimana bisa doanya dikabulkan?!”106

Karena itu semua, seharusnya Anda bersihkan jalan menuju ijabah dari berbagai kotoran dosa.

Ketiga, bisa jadi Allah menyimpan pahala doa itu dan memberikannya kepada Anda kelak di akhirat. Atau bisa jadi dengan doa itu sesuatu yang buruk yang sepadan dengan pahala doa Anda, disingkirkan dari diri Anda.

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah  bersabda, “Setiap muslim yang berada di muka bumi ini yang berdoa kepada Allah pasti akan dikabulkan-Nya atau disingkirkan suatu keburukan yang sekadar dengannya, selama ia tidak memohon suatu dosa atau memutus tali silaturrahim.” Ada seseorang yang berkomentar, “Wah, kalau begitu kita perbanyak doa saja!” “Dan Allah pun akan memperbanyak.”, tambah Nabi kemudian.107

Dalam riwayat al-Hakim ada tambahan, “Atau pahalanya disimpankan untuknya.”

Saudaraku, bisa jadi hal-hal tersebut jauh lebih baik bagimu daripada terkabulnya doamu; sebab dengan disimpannya pahala doa di akhirat, sungguh hal itu akan meninggikan derajatmu kelak pada hari kiamat. Hari itu kamu akan sangat bergembira karenanya dan kamu akan berharap andai saja semua doamu tidak dikabulkan dan pahalanya disimpan di akhirat.



Keempat, penundaan ijabah adalah satu ujian baru dari Allah bagi seorang hamba untuk mengukur kadar imannya dan memurnikannya. Ketika doa tidak segera dikabulkan setan akan datang meniupkan rasa was-was dan berbisik, “Yang pemurah itu luas dan yang bakhil itu tidak punya apa-apa, lalu apa faedah penundaan ijabah?” dan seterusnya dan seterusnya.

Saat itu juga seorang mukmin mesti melawan hembusan was-was itu dan menepisnya dari dirinya dengan berbagai macam cara. Saat itu juga ia harus mengingat bahwa seandainya rahasia penundaan ijabah hanyalah ujian dari Allah bagi seorang hamba untuk memerangi Iblis si musuh Allah dan musuhnya, itu pun sudah cukup..



Kelima, salah satu hikmah penundaan ijabah, supaya seorang muslim mengerti akan adanya suatu hakekat yang amat penting; bahwa ia adalah hamba Allah dan bahwa Allah adalah Malik, Sang Pemilik. Sang Pemilik memiliki hak untuk mengatur semua miliknya, menahan sesuatu atau memberikannya. Jika Dia memberikannya maka itu merupakan anugerah dari-Nya, dan jika Dia menahannya maka itu karena keadilan-Nya dan Dia memiliki alasan untuk itu…

Juga, supaya Anda tahu bahwa Anda bukanlah buruh yang bisa marah jika gajimu tidak diberikan.

Supaya Anda juga tahu makna sabda nabi  pasca perjanjian Hudaibiyah, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, dan Dia tidak akan menyia-nyiakan diriku selamanya.”108

Saat terjadi penundaan ijabah, saat itulah iman dimurnikan dan akan menjadi jelaslah beda antara mukmin sejati dengan selainnya. Seorang mukmin di saat ijabah tertunda, hatinya tidak akan berubah dalam menghadap Rabbnya, sebaliknya justru ‘ubudiyyahnya kepada Allah  akan semakin bertambah.

Saat itu hendaknya seorang muslim mengingat bahwa sejak Ya’qub  kehilangan anak kesayangannya, Yusuf, ia terus berdoa meski ijabah atas doanya tertunda lama sekali. Diriwayatkan, ia terus-menerus berdoa selama 40 tahun. Tidak berhenti sampai disitu, bahkan ujiannya bertambah. Ia kehilangan anaknya yang satu lagi, Bin-yamin, dan matanya memutih, buta, karena sedih. Namun demikian, ia yakin bahwa jalan keluar dari Allah sudah sangat dekat. Ia berucap, “Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.“ (Yusuf : 38)

Jalan keluar itu datang dari sisi Allah. Allah kembalikan matanya, Yusuf dan Bin-yamin sekaligus.



Keenam, mungkin saja terhalangnya Anda dari ijabah itu menjadi sebab Anda senantiasa berdiri di hadapan Allah, terus-menerus merendahkan diri dan bersimpuh di hadapan-Nya. Mungkin saja jika permohonan Anda dikabulkan Anda akan menyibukkan diri dengannya dan lalai kepada Allah, lalu Anda lupa untuk memohon dan berdoa kepada-Nya, padahal doa itu adalah inti ibadah.

Inilah keadaan kebanyakan kita. Buktinya, Anda baru bersimpuh di hadapan-Nya di saat menghadapi ujian ~menyitir penuturan Ibnul Jauzi~ saja.

Dus, semua yang menjadikan Anda berpaling dari Allah adalah musibah, dan semua yang menjadikan Anda berdiri menghadap-Nya adalah kebaikan.

Ibnul Jauzi mengisahkan Yahya al-Bakka` (yang banyak tangis) pernah bermimpi bertemu Rabbnya  dalam mimpi lalu ia bertanya, “Duhai Rabbi, sekian lama aku berdoa mengapa tak kunjung dikabulkan?” Lalu Allah berfirman, “Wahai Yahya, karena Aku suka mendengar suaramu.”109



Ketujuh, bisa jadi jika doamu dikabulkan akan muncul suatu dosa atau akan datang suatu madlarat dalam dienmu, atau akan hadir fitnah bagimu. Bisa jadi apa yang Anda minta ~secara lahir~ berupa kebaikan namun hakekatnya adalah keburukan. Terlebih bagi siapa-siapa yang hanya berdoa dengan doa-doa khusus dan meninggalkan doa-doa yang ma`tsur.

Diriwayatkan ada sebagian salaf yang memohon kepada Allah untuk diberi kesempatan berperang. Tiba-tiba terdengar suara, “Jika kamu berperang, kamu akan tertawan, dan jika kamu tertawan kamu akan menjadi Nasrani.”

Kepada setiap aktivis, hendaknya selalu memperhatikan doa-doa umum, doa-doa yang bersumber dari al-Qur`an dan as-Sunnah.. Semua yang tersebut di muka mengingatkan kita akan firman Allah

وَيَدْعُ اْلإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ اْلإِنْسَانُ عَجُوْلاً



Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (al-Isra` : 11)

Kedelapan, sesungguhnya tiap-tiap doa itu ada masa dan ukurannya. Tidaklah masuk akal jika hari ini Anda memohon kepada Allah supaya Dia menegakkan khilafah islamiyyah rasyidah lalu Anda berharap akan menyaksikannya esok hari. Doa yang agung semacam ini ada takaran, ukuran, syarat, sebab, dan upaya-upaya yang harus diikuti dengan kerja yang keras, usaha yang sungguh-sungguh, dan pembinaan generasi secara sempurna. Tidak terbayangkan ada seseorang dari kita memanjatkan doa semacam ini lalu ia mengharap hal itu akan terwujud dalam beberapa hari. Sebagian mufassir mejelaskan bahwa waktu antara doa Musa berikut,

Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.”(Yunus : 88) dengan ijabahnya “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua.” (Yunus 89) adalah 40 tahun persis.

Jika kita renungkan ini; orang yang berdoa adalah Musa , salah seorang Rasul Ulul ‘Azmi yang utama, yang mengamini adalah Harun as, seorang Nabi yang mulia, syarat-syarat doa dan adab-adabnya telah terpenuhi semuanya, dan yang didoakan adalah Fir’aun beserta para pengikutnya ~tidak ada yang lebih zhalim, fasiq, dan kafir daripada mereka saat itu~; meskipun demikian, ijabah tertunda! Sungguh itu adalah masa dan ukuran bagi doa ini, doa yang bukan sembarang doa!

Poin ini sangatlah penting bagi orang yang mau mentadabburinya dan merenungkannya.
PERBAHARUILAH IMANMU

Wahai saudaraku yang mulia, perbaharuilah selalu imanmu dari waktu ke waktu... Pembaharuan ini sangat penting bagi setiap muslim umumnya dan para aktivis pada khususnya. Mengapa? Karena seorang aktivis Islam sangat mungkin disibukkan dengan amal dakwah, manajemen berbagai urusan dan kebutuhan, serta memikirkan semuanya. Atau juga disibukkan dengan banyaknya kerja nyata dalam amal islami ataupun upaya untuk menghadapi musuh dengan bermacam metode yang disyariatkan Islam.

Amal-amal di atas sangat mungkin menyita waktu sehingga tiada lagi waktu bagi amal hati serta perhatian yang seharusnya diberikan kepadanya.

Sungguh, seorang muslim berjalan menuju Allah dengan hatinya, bukan dengan anggota badannya. Kedudukan anggota badan dalam kebaikan tidak lain dan tidak bukan adalah sebagai reflektor dari shalihnya hati dan himmah (keinginan)nya untuk melakukan kebaikan itu. Tersitanya waktu ini tentunya dapat mengakibatkan taqshir, berkurangnya intensitas dan kualitas, sehingga akan berkuranglah sebagian dari makna iman batin dari hati, keihklasannya kepada Allah, misalnya. Mungkin saja pada suatu masa, seorang aktivis akan mencari-cari keikhlasan yang pernah dimilikinya di awal-awal iltizamnya.

Ada beberapa hal yang mungkin berkurang dari seorang aktivis; kejujuran, keyakinan, kezuhudan, tawakkal, khasyyah, inabah, ketundukan, dan mahabbahnya. Bisa saja seorang aktivis ~setelah masa berlalu beberapa saat~ mengandaikan kondisi hatinya dapat kembali seperti saat ia beriltizam pertama kali bersama para ikhwan. Semua ini hadir sebagai buah dari sikap meremehkan amalan hati. Anda akan melihat ~setelah masa berlalu beberapa saat~ ada aktivis yang terlalu banyak mengobrol tanpa ada urgensinya, ada yang terlalu banyak melakukan hal-hal yang mubah semisal banyak makan dan banyak gaul tanpa ada mashlahat diniyah, banyak tidur dan malas, tidak mengupayakan manajemen waktu, serta membiarkannya berlalu tanpa ada faedah atau mashlahat syar’iyyah. Ya, walaupun yang ia kerjakan bukan sesuatu yang haram atau makruh sekalipun. Ini semua penyebabnya adalah taqshir (kemalasan dan ketidakseriusan), termasuk hal mubah yang banyak menyita waktu tanpa imbalan dien dan bahkan dunia. Yaitu meremehkan perintah Rasulullah  yang telah menyeru kepada setiap muslim untuk memperbaharui imannya apapun kelas imannya, apa pun amalnya dan setinggi apa pun kedudukannya di dalam sebuah jamaah Islam. Beliau telah bersabda

جَدِّدُوْا دِيْنَكُمْ



Perbaharuilah dien kalian!110

Beliau juga sering sekali bersumpah dengan mengucapkan kata

لاَ وَمُقَلِّبِ الْقُلُوْبِِ

Tidak, demi (Dzat) yang membolak-balikkan hati.111

Saya telah mendapati banyak sekali fenomena ‘futur’ pada diri sebagian aktivis Islam atau keterpurukan mereka dalam kubangan syubhat dan syahwat disebabkan mereka kurang memperbaharui iman. Dan ini adalah tanggungjawab bersama antara pribadi, qaid, dan jamaah itu sendiri..

Banyak pula kita jumpai aktivis-aktivis yang telah mencapai prestasi yang baik dalam beriltizam dan beramal di dalam Islam, pun telah pula menghabiskan sebagian dari umur mereka untuk sesuatu yang penuh arti, ... namun tiba-tiba saja mereka terpuruk, berbalik 180 derajat... Semua itu menjadi suatu kepastian dikarenakan oleh taqshir dalam amal hati. Ya, bagaimana mungkin ia dapat berjalan menuju Allah sementara hatinya diam tidak bergerak, berhenti di tengah jalan, dan bekal yang dimilikinya telah habis tanpa sempat mencari yang lainnya?!

Bekalnya terdahulu telah habis bersamaan dengan sampainya ia ke satu jenjang tertentu dari perjalanannya menuju Allah. Kini tiada yang tersisa dan tepuruklah sang hamba di atas ‘kesuksesan’ yang menjerumuskan: tipuan syubhat dan hinanya syahwat.

Lebih dari itu, kebanyakan ‘hambatan’ yang muncul begitu saja menghadang seorang aktivis di tengah jalan kebanyakannya kembali kepada kurangnya amal hati dan kurangnya perhatian untuknya berkait dengan makna-makna iman. Hambatan internal itu bisa berupa; cinta dunia, mementingkan diri sendiri yang menggantikan itsar, loba dan tamak yang menggantikan zuhud dan wara’, keras dan kasar kepada orang-orang yang beriman yang menggantikan kasih-sayang dan lemah-lembut kepada mereka, memberikan loyalitas kepada orang-orang zhalim yang menggantikan loyalitas kepada orang-orang yang beriman, ‘ujub dan kibr (sombong) yang menggantikan tawadlu’, serta tinggi hati yang menggantikan keikhlasan... Padahal tanpa makna iman ini hati tidak akan dapat hidup... Semua kembali kepada sikap meremehkan masalah pembaharuan iman, baik dari diri pribadi, qaid, maupun jamaah. Mereka semua bertanggungjawab bersama dalam masalah ini.

Adalah tafsir syekh ‘alim yang membuat saya terkagum-kagum berkaitan dengan firman Allah

يَاءَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا ءَامِنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَالْكِتاَبِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلَى رَسُوْلِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِيْ أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. (an-Nisa` : 136)

Dalam salah satu daras beliau, di hadapan para ikhwan beliau mengatakan, “Bagaimana bisa al-Qur`an menuntut keimanan dari orang-orang yang beriman sedangkan mereka telah beriman? Bahkan khithab ayat tersebut berbunyi ‘Hai orang-orang yang beriman!’? Apa sebenarnya makna iman yang dituntut oleh al-Qur`an ini?” Lalu beliau melanjutkan, “Sesungguhnya ayat ini menuntut mereka untuk senantiasa memperbaharui iman. Yang demikian itu karena memang iman memerlukan pembaharuan dari waktu ke waktu.”


BAGAIMANA MEMPERBAHARUI IMAN

Akan tetapi...bagaimana cara kita memperbaharui iman?

Jawaban tuntas dari petanyaan ini tentunya bukan pada lembaran-lembaran dan risalah tipis ini. Namun secara sekilas kita dapat membahas sebagiannya. Yah, sekedar menunjukkannya .... siapa tahu dapat mencukupi untuk sementara waktu...

Manusia yang mendapat taufiq adalah mereka yang memahami substansinya, mengamalkannya, dan mengajarkannya kepada orang lain.

Urusan memperbaharui iman adalah adalah urusan yang mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah dan serius mempersiapkan hati, jiwa, dan ruhnya untuk itu.

Ada banyak wasilah yang dapat membantu seorang hamba di dalam memperbaharui imannya. Di antaranya; berziarah kubur dan mengunjungi orang-orang yang shalih lagi bertakwa: para ulama terpercaya, para mujahid, dan para mukhlishin. Juga, membaca sirah as-salafus shalih, sirah para ahli ibadah, ahli zuhud, para mujahid, para penyeru kebenaran, orang-orang yang sabar, dan orang-orang yang pandai bersyukur. Juga membicarakan sirah mereka bersama dengan beberapa ikhwan, merenungi catatan sejarah, mengupayakan peningkatan intensitas ibadah daripada yang sudah-sudah, melaksanakan ‘umrah di bulan Ramadlan bagi yang mampu, menyendiri selama beberapa saat setiap hari untuk merenung, dan memperbanyak bacaan al-Qur`an, doa, qiyamullail, serta sedekah.

Berikut ini adalah sedikit pendetailan dari beberapa wasilah tersebut.

1. Membaca sirah as-salafus shalih

Membaca perjalanan hidup orang-orang yang zuhud akan mentarbiyah hati supaya zuhud. Membaca perjalanan hidup para mujahid dan para syuhada` akan menjadikan hati tergantung pada langit, seakan-akan hidup bersama mereka, terilhami oleh mereka, dan berandai-andai menjadi salah seorang dari mereka. Bahkan dengan membacanya seseorang dapat merasakan bahwa dirinya tengah berbaris bersama mereka dan seakan-akan senantiasa berperang dan berkeliling di medan peperangan...

Betapa perjalanan hidup Khalid bin Walid, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin Jarah, ‘Ikrimah, Miqdad, dan Mutsanna bin Haritsah, betapa perjalanan hidup mereka telah menghidupkan sekian hati yang mengenal mereka. Betapa itu telah mengobarkan semangat sekian kaum untuk menggapai syahadah di jalan Allah. Betapa juga telah menggelorakan jiwa untuk mencurahkan segala potensi yang ada, menyirami pohon Islam nan agung ini dengan darah para syuhada`.

Karena itulah dahulu para sahabat mengajarkan perang-perang Rasulullah  kepada anak-anak mereka sebagaimana mereka mengajarkan satu ayat dari al-Qur`an.

Sebenarnyalah, sirah seorang lelaki ~hanya seorang~ seperti Khalid bin Walid akan mampu menghidupkan hati seluruh ummat, membangkitkan himmahnya, dan menguatkan ‘azamnya. Karena itulah sebagian lembaga sekuler menyarankan untuk tidak mengajarkan kitab ‘Abqariyatu Khaalid’ (Kejeniusan Khalid) yang sudah sekian lama menjadi kurikulum tetap di sekolah-sekolah menengah. Menurut mereka kitab ini membawa implikasi yang sangat berbahaya bagi para pelajar seusia mereka. Padahal sebenarnya buku ini jauh dari ‘memadai’ bagi siapa pun yang ingin mengkaji sirah Khalid bin Walid secara komprehensif. Itupun telah membawa pengaruh yang dahsyat ~Wazi’uddien nyaris mati karenanya~ bagi ummat.

Sirah Khalid bin Walid dan orang-orang yang semisal dengannya menjadikan seorang muslim memandang rendah terhadap dunia, daya tariknya, dan kelezatannya yang fana. Ia akan menjadikan seorang muslim mencintai kematian. Ia akan menjadikannya melangkah di alam buana sementara semangatnya melambung ke angkasa. Ia juga akan memandang kerdil terhadap dirinya sendiri yang senantiasa memikirkan dan selalu tergantung kepada materi dan kenikmatan sesaat. Betapa sirah manusia seperti mereka telah mengikis faktor-faktor kegentaran dan sebab-sebab ketakutan serta tipu daya setan dari dalam hati. Alangkah banyak hati yang telah diantarkannya ke ‘istana’ tawakkal yang benar kepada Allah.

Membaca sirah ahli zuhud dan orang-orang shalih akan menumbuhkan ‘pohon’ zuhud terhadap dunia di dalam hati. Terus membacanya berarti menyirami pohon itu hingga akhirnya akan tumbuh besar dan menghasilkan buah setiap saat, dengan izin Rabb-nya.

Sirah ahli ibadah akan mendidik diri untuk mencintai shalat malam, shiyam sunnah, dzikir, doa, khusyu’, dan tangis.

Sebelum saya akhiri pembicaraan tentang masalah ini saya ingin mengingatkan adanya dua hal penting:

Pertama, hendaknya sirah yang dibaca bukan sirah mereka yang hidup sampai zaman tertentu, tetapi hendaklah dimulai dari zaman sahabat sampai zaman kita hidup ini.

Kedua, membaca sirah ini hanya akan berbuah seperti yang diharapkan manakala hati orang yang membacanya saat itu benar-benar kosong dari berbagai kesibukan dan halangan. Ia mesti hidup dengan perasaan, hati, dan seluruh bagian tubuhnya bersama sirah mereka yang semerbak itu. Orang yang membaca sirah ini mesti membebaskan diri dari berbagai halangan dan pautan yang menghalanginya dari menyelami lautan nikmatnya.

Jika misalnya untuk memberikan pelajaran yang disarikan dari perjalanan hidup mereka ~khususnya pelajaran keimanan~ disyaratkan yang membacanya haruslah seorang aktivis teladan, yang telah dikaruniai ilmu yang melimpah tentang Allah dan perintah-Nya, juga telah dikenal ketakwaan, keshalihan, dan perjuangannya di jalan Allah, ditambah lagi pemahamannya yang mendalam berkenaan dengan sirah dan tarikh Islam, jika kita dapat memenuhi semua syarat itu, sungguh kita telah melakukan kebaikan yang banyak. Namun pada kenyataannya, syarat-syarat ini tidak ada dalam diri kebanyakan aktivis. Sedikit sekali yang memenuhinya. Kendati jumlah mereka sedikit, peran mereka dalam meningkatkan keimanan sangatlah besar.



2. Khalwah

Salah satu sarana untuk memperbaharui keimanan, hendaknya seorang aktivis menyediakan waktu khusus di luar waktu qiyamullail, dzikir, dan tilawahnya, untuk menyendiri. Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa seorang yang berakal itu membagi waktunya menjadi empat: salah satunya waktu yang ia isi untuk menyendiri, merenungi diri.

Bagi para aktivis Islam waktu untuk menyendiri ini sangatlah penting. Di saat itu ia dapat menyendiri bersama Rabbnya, Penolongnya, dan Khaliqnya, ia dapat semaksimal mungkin mendekatkan diri kepada-Nya, ia dapat sungguh-sungguh bersama Dzat yang paling dicintainya, dan di saat itu ia dapat merasakan manisnya bermunajat kepada-Nya.

Selain itu, dengan khalwah ini seorang aktivis bisa mengintrospeksi diri dan menghitung-hitung semua yang telah dikerjakannya tanpa ada gangguan dari orang yang memujinya. Di saat itu ia dapat mengintrospeksi diri sambil menghayati ‘ubudiyyahnya di hadapan Penolong dan Khaliq-nya. Di saat itu pula ia berkesempatan untuk mengingat dosa-dosa, kemaksiatan, keteledoran, dan kealpaan dirinya, khususnya kemaksiatan batiniyah yang tidak diketahui oleh orang-orang yang selama ini memujinya, yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

Di saat khalwah inilah ia bisa mencucurkan air mata penyesalan dan taubat nashuha, menangis karena takut, malu, cinta, dan khusyu’ kepada Allah yang Mahasuci. Semoga saja air mata yang mengalir itu adalah air mata kejujuran yang manfaatnya jauh lebih besar daripada amal yang selama ini dibanggakannya.

Sangat mungkin Anda akan menjumpai seorang aktivis yang telah bertahun-tahun beriltizam namun tak setetes pun air mata membasahi pipinya karena takut dan malu kepada Allah. Siapa saja yang keadaannya demikian, hendaknya ia mencatat bahwa faedah yang dibawanya dalam dien hampir-hampir tak bisa disebut. Siapa saja yang keadaannya demikian mestinya menyadari bahwa ia tidak termasuk ke dalam salah satu kategori manusia yang dikabarkan oleh Rasulullah  akan mendapatkan naungan dari Allah di bawah ‘Arsy pada hari tiada naungan selain naungan-Nya. Beliau bersabda,

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dan laki-laki yang mengingat Allah dalam kesendiriannya lalu air matanya mengalir.112

Perhatikan kata ‘khaliyan’ yang berarti ‘dalam kesendirian’ pada hadits di atas. Benar, orang itu berada dalam sunyi, jauh dari sum’ah dan riya`. Ia ditemani oleh kemurnian dan keikhlasannya kepada Allah .

Pada saat khalwah ini ia dapat mengingat-ingat nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadanya, kepada saudara-saudaranya, dan kepada jamaahnya. Ia dapat pula merenungkan ikram dari Allah untuknya; yang terbesarnya adalah nikmat hidayah.

Di saat itu ia akan mengulang-ulang firman Allah

وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ

Dan kami sekali-kali tidak tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. al-A’raf : 43

Ia juga dapat memikirkan bagaimana ummat merespons dan menjawab seruannya bukan karena kefasihannya, retorikanya, kekuatan logikanya, atau kemampuan hujjahnya, melainkan karena taufiq dari Allah, kemurahan-Nya, dan anugerah-Nya secara mutlak.

Demikian seterusnya, ia akan menghitung semua nikmat dalam khalwah itu. Lalu ia tidak lupa untuk mengingat bahwa Allah telah mencegah musuh darinya dan dari saudara-saudaranya. Jumlah mereka banyak dan kekuatan mereka besar. Ia juga mengingat bahwa Allah sajalah yang membalikkan tipu daya mereka berbalik kepada diri mereka sendiri, dan bukan karena jihad, perencanaan, persiapan, serangan, atau pengaturan yang dilakukan. Semuanya adalah anugerah dari Allah, fadllullah. Sekiranya bukan karena anugerah-Nya, semua yang dikerjakannya pasti akan mengakibatkan tindakan biadab musuh terhadapnya dan saudara-saudaranya serta menjadi faktor utama kehancurannya. Hanya Allah yang menyelamatkan (al-Anfal : 43). Ia juga memikirkan betapa semua nikmat ini mesti disyukurinya dengan sangat. Lalu, mana kesyukuran itu? Sudahkah ia bersyukur?!

Pada saat khalwah itu, ia dapat mengingat-ingat cobaan dan musibah yang menimpanya dan juga saudara-saudaranya, kalau-kalau faktor penyebabnya adalah dosa-dosanya, apalagi jika ia menduduki posisi qiyadah dan jajarannya. Kemudian hatinya terus mengumandangkan firman Allah

قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

Katakanlah, “Itu karena berasal dari diri kalian sendiri.” (Ali ‘Imran : 165)

Dan selanjutnya ia bertekad untuk bertaubat dari dosa-dosa itu, menambal lubang, dan memperbaiki aib diri. Atau bertekad untuk yang semisal dengan itu, jika kemaksiatan dilakukan oleh saudaranya. “Turunnya bala` itu hanyalah karena dosa, dan baru diangkat karena taubat.” Demikian menurut penuturan sebagian salaf.

Dalam khalwah itu ia akan membiasakan diri untuk memperhatikan faktor-faktor turunnya bala` dengan seksama menurut kaca mata syariat, bukan kaca mata dunia ansich.

Masih banyak hal lain yang tidak bisa saya sebutkan dalam lembaran-lembaran ini. Namun saya yakin, keluasan pemahaman dan kemampuan akal Anda semua akan menuntun Anda dalam mengetahui semuanya, semua yang belum sempat saya sebutkan di sini.



3. Melakukan aktivitas penumbuh tawadlu’

Salah satu sarana untuk memperbaharui keimanan, pada waktu tertentu hendaknya seorang aktivis melakukan suatu aktivitas yang dapat mendidiknya untuk bersikap tawadlu’ dan menghilangkan faktor ‘ujub dari diri. Terlebih pada saat seorang aktivis merasa mulai dijangkiti penyakit ‘ujub ini atau diingatkan oleh salah seorang ustadz atau syekh bahwa ia mulai dijangkitinya. Tentu saja ini dengan catatan, aktivitas yang akan dilakukannya itu tidak melalaikannya dari tugas utamanya dalam dien. Di antara aktivitas itu misalnya: mengambilkan dan memakaikan alas kaki seorang buta yang pulang dari masjid lalu menuntunnya sampai ke rumahnya, ikut membersihkan, mengepel, dan menyapu masjid, terjun langsung membantu anak-anak yatim atau orang-orang sakit dengan memenuhi kebutuhan mereka, atau berangkat sendiri untuk berbelanja kebutuhan salah seorang anak aktivis yang tertangkap musuh.. ini baru sebagian contoh.. dan semua ini akan mendatangkan manfaat yang banyak. Lembaran-lembaran ini tak cukup untuk menyebutkannya.

‘Umar bin Khathab ~siapa yang tidak kenal dia~ pernah memanggul kantung air di atas punggungnya untuk memenuhi kebutuhan air di rumah sebagian kaum muslimin. Saat ditanya ia menjawab, “Aku tengah diliputi sikap ‘ujub dan karenanya aku ingin mendidik diriku sendiri.”

Ia juga mengobati onta yang kurapan.

Ia juga sering berlomba dengan Abu Bakar ash-Shiddiq untuk mengunjungi salah satu janda Rasulullah  untuk memasak atau menyapu di sana, bahkan membuat adonan roti untuk mereka! Hanya saja, Abu Bakar selalu mendahuluinya.

Dalam masalah ini banyak sekali aktivitas yang bisa dilakukan. Namun, sekali lagi dengan syarat tidak melupakan dan melalaikan diri dari tugas utama dalam dien.



4. Ziarah Kubur

Salah satu sarana untuk memperbaharui keimanan, hendaknya seorang aktivis menyempatkan diri untuk berziarah kubur, duduk di sana beberapa saat guna bertadabbur, merenung, berdoa untuk dirinya sendiri dan juga untuk kaum muslimin yang telah mendahuluinya, menghayati kematian dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi setelahnya atau merenungkan seandainya ia bertukar tempat dengan penghuni kubur yang ada di depannya, bagaimana kira-kira hisabnya, dengan jawaban apa ia akan menjawab pertanyaan dari Rabbnya, dan apakah ia akan selamat atau justru celaka?!

Selanjutnya ia bisa merenungi bahwa di antara sekian orang yang sudah meninggal itu ada yang kuat, yang lemah, yang zhalim, yang mazhlum, yang kaya, yang fakir, yang berkuasa, yang papa, yang muda, yang tua, yang shalih, dan yang durjana.. semuanya kini berada di tempat yang sama, di bawah tanah dan telah meninggalkan dunia beserta perhiasannya, mau tidak mau. Mereka telah meninggalkan orang-orang kecintaan dan para sahabat. Yang menemaninya saat itu tinggallah amal mereka; barang siapa shalih amalnya, kuburnya adalah taman dari sekian taman surga, dan barang siapa tidak demikian maka kuburnya adalah jurang dari sekian jurang neraka. Semoga Allah melindungi kita dari yang terakhir ini.

Dalam ziarah kubur seorang ikhwan akan dapat memikirkan dosa-dosanya dan kekurangseriusannya dalam beramal. Ia dapat memusatkan seluruh pikirannya dalam masalah itu, kemudian berazam (berjanji kepada Rabb-nya) dengan sebenar-benarnya untuk bertobat dan bersungguh-sungguh beramal dalam rangka menegakkan Islam.

Menakjubkan! Anda dapat menemui sebagian ikhwah yang aktif dalam amal islami selama bertahun-tahun, namun sekali pun ia belum pernah berziarah kubur. Bahkan ada yang sudah ditinggal mati oleh salah satu atau kedua orang tuanya, namun sekali pun belum pernah ia menziarahi kubur keduanya. Ini jelas merupakan tanda kekurangseriusan di dalam memenuhi kewajiban dan bukti tiadanya bakti kepada kedua orang tua.

Rasulullah saw telah menganjurkan ziarah kubur. Beliau bersabda,

زُوْرُوا الْقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ اْلآخِرَةَ

Berziarah kuburlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur itu akan mengingatkan kalian akan akhirat.113

Seorang wanita pernah mendatangi Aisyah mengadukan kekerasan hatinya. Aisyah menasehatinya supaya ia memperbanyak dzikrul-maut dari waktu ke waktu. Wanita itu mengerjakannya sehingga sirnalah kekerasan hatinya. Dan wanita itu pun kembali menemui Aisyah untuk berterima kasih atas nasehatnya.

Ada seorang ulama mujahid yang setiap habis Shubuh selalu menemani ikhwan yang berziarah kubur. Biasanya di sana beliau menasehati mereka dengan nasehat yang membekas. Dalam salah satu nasehatnya, pernah ia berkata, “Jika saja Allah tidak memberikan rizki syahadah kepada kita, niscaya kita akan disiksa dengan adzab yang pedih. Dosa-dosa kita sangatlah banyak, sedangkan amal kita terlalu sedikit.” Lalu beliau menangis dan menangislah semua yang hadir.

Sejak sepuluh tahun terakhir, para da’i, mahasiswa, dan mushlihun di Universitas Asyuth selalu mengagendakan rihlah ziarah kubur pada waktu-waktu tertentu. Peserta rihlah ini biasanya lebih dari 30 orang, mereka berkumpul ba’da Shubuh hari Jum’at. Kami pergi ke pekuburan, lalu salah seorang dari kami berbicara, memberi mau’izhah yang berisi dan ringkas kepada hadirin tentang kematian, hari kiamat, dan taubat. Setelah itu setiap ikhwan pergi dan duduk di dekat salah satu makam, lalu berpikir dan bertadabbur tentang apa yang terjadi di sekitarnya. Selanjutnya, dengan khusyu’ masing-masing berdoa dan bertaubat. Demikian keadaan masing-masing ikhwan sampai sekitar satu jam. Lalau mereka kembali berkumpul dalam dian, tanpa kata, tiada canda.

Ternyata rihlah ini memberikan pengaruh yang sangat baik bagi para ikhwan. Rihlah ini mengingatkan mereka akan akherat, mendorong mereka untuk bertaubat dan berinabah, serta mentarbiyah diri untuk zuhud terhadap dunia dan mengutamakan akherat. Rihlah ini memperbaharui iman mereka, sebenar-benarnya.

5. Mengunjungi orang-orang shalih

Salah satu faktor pembaharu iman yang memiliki pengaruh besar dalam hal ini adalah mengunjungi orang-orang shalih, para mujahid, dan orang-orang yang sudah lebih dulu aktiv dalam amal islami. Jika perjumpaan dengan mereka saja bisa menjadi bekal di jalan iman, lalu bagaimana dengan bermajlis bersama mereka, bersahabat dengan mereka, mendengarkan mereka, belajar dari mereka, membaca sirah mereka yang harum semerbak, dan sirah kawan-kawan mereka, para mujahid dan orang-orang shalih?! Bagaimana pula dengan kezuhudan mereka, kecintaan mereka kepada akherat, kecintaan mereka kepada kematian di jalan Allah, dan pengorbanan mereka untuk dakwah, amar makruf dan jihad?!

Kunjungan seperti ini ibaratnya menjadi charge bagi baterei iman seorang aktivis yang hampir habis. ‘Umar bin Khathab pernah berkata, “Jika bukan karena tiga perkara aku tidak senang menetap di dunia ini; ~kemudian beliau menyebutkan salah satu dari ketiganya~ berkumpul dengan kaum yang memilih kalimat yang baik seperti kalian memilih korma yang baik.”

Kiranya perumpamaan terbaik untuk itu adalah kepergian Musa untuk menemui Khidlir dan belajar darinya, kendati Musa memiliki kedudukan yang begitu tinggi, kendati ia lebih afdlal daripada Khidlir. Musa telah berkata,

Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (Al-Kahf : 66)

Ada juga murid-murid Mu’adz bin Jabal, orang-orang yang sangat mencintainya, yang selalu berada di sekelilingnya, belajar darinya, mereka menangis sedih mengkhawatirkan perpisahan dengannya ketika Mu’adz sakit keras menjelang kematian. Yang demikian ini karena mereka merasa akan kehilangan sebuah majlis imani yang agung. Majlis di mana Mu’adz bin Jabal memperbaharui iman mereka, mengajarkan hikmah, mengajarkan ilmu tentang Allah dan mengajarkan ilmu tentang perintah-Nya kepada mereka. Yazid bin ‘Umairah mengisahkan, “Ketika Mu’adz bin Jabal menderita sakit keras menjelang ajal, hal mana terkadang ia pingsan dan terkadang tersadar, sampai suatu saat ia pingsan cukup lama dan kami pun mengira saat kematiannya telah tiba, aku menangis di hadapannya tatkala tiba-tiba ia tersadar. Ia bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku pun menjawab, “Demi Allah, aku tidak menangis karena dunia yang aku dapatkan darimu. Pun bukan karena kedudukanku di hadapanmu. Tetapi aku menangis karena akan hilangnya ilmu dan hikmah yang aku dengar darimu.” Mu’adz berkata lagi, “Jangan menangis! Sesungguhnya ilmu dan iman itu pada tempatnya; barangsiapa mencarinya niscaya akan mendapatkannya. Carilah ia sebagaimana Ibrahim mencarinya! Sesungguhnya ia telah memintanya kepada Allah, tanpa disadarinya.” Kemudian Mu’adz membaca ayat

إِنِّيْ ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ



Sesungguhnya aku pergi kepada Rabbku yang akan memberi petunjuk kepadaku.114

Mungkin juga para aktivis menziarahi orang tua dari para syuhada`, kerabat mereka, dan sahabat karib mereka untuk mendengarkan kisah hidup mereka dan bagaimana mereka berinteraksi dengan Rabb mereka, manusia dan keluarga mereka.

Abu Bakar ash-Shiddiq dan ‘Umar bin Khathab pernah mengunjungi Ummu Aiman, sang pengasuh Rasulullah, sebagaimana beliau pun pernah mengunjunginya untuk mengingat hari-hari bersama Rasul. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas, katanya, “Abu Bakar ~setelah Rasulullah wafat~ berkata kepada ‘Umar, ‘Mari kita mengunjungi Ummu Aiman sebagaimana Rasul pernah mengunjunginya.’ Sesampainya di sana Ummu Aiman menangis. Lalu keduanya bertanya, ‘Apa yang membuat Anda menangis? Sesungguhnya yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya?’ Ummu Aiman menjawab, ‘Saya menangis bukan karena tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya, tetapi saya menangis karena wahyu dari langit telah terputus.’ Abu Bakar dan ‘Umar tersentak oleh ucapan Ummu Aiman dan mereka pun menangis bersama-sama.”115

6. Mengingat ayyamullah

Salah satu faktor pendorong untuk memperbaharui iman adalah mengingat ayyamullah, hari-hari Allah. Allah telah memerintahkan Musa  supaya mengingatkan Bani Israil tentang ayyamullah ini hal mana seakan-akan ini merupakan bagian yang sangat penting dari tugasnya. Allah berfirman

وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللهِ

Dan ingatkanlah mereka dengan hari-hari Allah! (Ibrahim : 5)

Maknanya, “Ingatkanlah Bani Israil tantang hari ketika Allah menyelamatkan mereka dan menenggelamkan Fir’aun bersama pengikutnya! Ingatkanlah mereka tentang hari ketika Allah memenangkan wali-wali-Nya, memuliakan tentara-Nya, dan membinasakan orang-orang kafir! Ingatkanlah mereka tentang tanda-tanda kekuasaan Allah yang tampak jelas pada hari itu, pada hari Allah memakaikan kemenangan dan kekuasaan atas bumi kepada wali-wali-Nya.”

Shiyam hari ‘Asyura disunnahkan dalam Islam merupakan salah satu sarana untuk mengingat hari yang agung itu, hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan orang-orang yang beriman bersamanya, hari ketika Allah menenggelamkan Fir’aun dan orang-orang kafir yang bersamanya.

Sungguh, hari itu benar-benar ayyamullah. Karenanya setiap setahun sekali kita melaksanakan shiyam sebagai ungkapan syukur kepada Allah  atas kemenangan besar itu.. Dan pada hari itu, semestinya kita memperbanyak doa kepada Allah untuk kebinasaan Fir’aun masa kini dan antek-anteknya sebagaimana Allah telah membinasakan Fir’aun masa Musa dan balatentaranya. Juga untuk kebinasaan Haman masa kini dan konco-konconya sebagaimana Allah telah membinasakan Haman dan pengikutnya, tenggelam di laut Merah bersama tuan besar mereka, Fir’aun.

Pada hari seperti hari itu pula seharusnya kita memperbanyak doa supaya Allah menolong kita dan menyelamatkan kita dari cengkeraman tangan Fir’aun masa kini, dan supaya menguasakan kita di muka bumi sebagaimana Allah telah menguasakan Musa dan orang-orang yang beriman bersamanya.

Seorang aktivis hendaknya mengingat ayyamullah pada waktu-waktu tertentu dan menghayati ‘ibrah, pelajaran, dan daras keimanan yang agung…

Seorang aktivis hendaknya mengingat-ingat hari Furqan, hari bertemunya dua pasukan, hari Khaibar, hari penaklukan kota Mekah, hari Bani Qainuqa’, hari Bani Nadlir, hari Bani Quraizhah, hari Yamamah, hari Yarmuk, hari Qadisiyah, hari Nahawand, hari penaklukan Maroko, hari penaklukan Andalusia (Spanyol) dan wilayah utara Rusia, hari Hiththin, hari ‘Ain Jalut, hari Konstantinopel, hari Zilaqah, dan hari Araak. Ia juga tidak boleh melupakan hari ketika Allah menyelamatkan Nuh  dan orang-orang yang beriman bersamanya. Juga hari diselamatkannya Hud, Shalih, Luth, Syu’aib, beserta orang-orang yang beriman bersama mereka dan ditimpakannya adzab dan siksa kepada orang-orang kafir dan kaum pembangkang.

Aktivis hendaknya juga mengingat hari saat Ibrahim  diselamatkan oleh Allah dari api dan Dia menjadikannya terasa dingin-sejuk baginya. Juga hari saat Allah mengganti Ismail dengan binatang sembelihan yang gemuk.. Semua hari ini adalah hari-hari Allah yang berhak dan harus ditadabburi dan ditafakkuri. Berjilid-jilid buku tidak cukup untuk memuat pelajaran keimanan yang ada di sana.

Dengan merenungkan ayyamullah ini Allah akan meluapi hati orang yang merenunginya dengan unsur-unsur keimanan; yaqin, tawakkal, inabah, khusyu’, khudlu’, istislam, mahabbah, dan ikhlash kepada Allah .

Para aktivis hendaknya tidak membatasi hal mengingat ayyamullah ini pada semua yang telah kami sebutkan di muka, yang disebutkan oleh Allah di dalam al-Qur`an, serta yang termuat di dalam kitab-kitab hadits, sirah, dan tarikh saja. Hendaknya mereka juga mengingat ayyamullah yang baru saja terjadi. Jangan melupakannya. Sebab bisa saja ayyamullah yang baru saja terjadi ini lebih mendatangkan manfaat dan lebih menggugah…Misalnya saja, hari-hari saat Allah menghinakan Syamsu Badran, Shalah Nashr, Sya’rawi Jum’ah, dan ‘Ali Shabri. Mereka telah menuai kehinaan ~sebagian di tangan ‘Abdunnnasser, sebagian lagi di tangan Anwar Sadat~. Mereka yang telah menyiksa kaum muslimin dengan sangat kejam dan keji, khususnya di dalam penjara perang.

Termasuk ayyamullah juga, saat Fir’aun masa ini tewas di tangan sang pahlawan, Khalid dan sejawatnya.

Termasuk juga, saat hancurnya Komunisme. Bukan hanya di Eropa Timur, tetapi di seluruh dunia, termasuk di dalamnya Uni Soviet. Berhala yang disembah hampir separo penduduk bumi itu ~mereka bukan hanya menyembah berhala Komunisme ini, namun juga menolak semua agama dan eksistensi Allah~ telah runtuh, hancur lebur. Kehancuran berhala Komunisme dan Marxisme ini merupakan bukti kekuasaan Allah terbesar di masa ini. Hari kehancuran itu tergolong ayyamullah yang paling agung di masa ini.

Labih menakjubkan lagi, keruntuhan itu benar-benar tuntas hanya dalam waktu tiga bulan untuk wilayah Eropa Timur.

Mari kita merenung sejenak, berapa lama umur Komunisme ini, paham yang dibangun di atas kebengisan, penjara, penyiksaan, pengusiran, besi, dan api… dan telah membantai lebih dari 20 juta kaum muslimin?! Tak lebih dari 70 tahun!!

Saudaraku, coba bandingkan umur Komunisme dengan umur Islam yang dimusuhi oleh dunia dan tidak ada satu negeri pun yang mau membelanya! Bandingkan dengan umur Islam yang para pemeluknya menanggung berbagai macam siksaan di seluruh penjuru dunia!.. Meski telah berjalan selama lebih dari 14 abad, Islam tetap segar dan berdenyut.

Pikirkanlah wahai saudaraku, bagaimana berhala Komunisme menemui kehancurannya hanya karena kurang beresnya ~bukan tidak ada~ pemerintahan sebuah negara selama beberapa hari!!

Sedangkan Islam, meskipun dunia bersepakat untuk memeranginya.. dari hari ke hari ia bertambah kuat dan bertambah banyak pula pembela dan rijalnya… sebab ia adalah fitrah Allah yang setiap manusia diciptakan di atas fitrah itu. (ar-Rum : 30)

Saya memohon kepada Allah  semoga Allah membersihkan bumi dari para penyembah salib, Yahudi, orang-orang Sekuler, dan semua orang kafir-musyrik. Semoga Allah menyucikannya dari semua berhala itu dan lalu menebarkan sinar kebenaran dan cahaya Islam.

Bagi Allah, itu semua tidaklah sulit!

Jumlah ayyamullah banyak sekali, tak terhitung. Ada yang bersifat lokal, ada yang bertaraf internasional. Ada yang sangat pribadi, ada juga yang berkenaan dengan keluarga. Atau ada juga yang menyangkut sebuah jamaah Islam kecil yang ada di salah satu wilayah Islam.

Yang penting, seorang aktivis Islam mestilah selalu mengingat hari-hari itu dan merenungkan pelajaran keimanan yang ada di sana. Ada banyak sekali pelajaran yang dapat diambil darinya. Semoga beberapa contoh yang saya tampilkan bisa mewakili.

Selesai, dan alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah. Hanya dengan karunia dari-Nya saja segala kebajikan dapat terlaksana.

Penulis buku ini adalah salah seorang anggota majlis syura sebuah harakah Islam di Mesir. Beliau menegaskan bahwa musuh utama rijal harakah Islam ada empat :

nafsu, setan, dunia, dan hawa.

Beliau berharap risalah ini dapat membantu rijal harakah Islam di bumi mana pun, supaya mereka dapat mengalahkan musuh utama mereka.

Di saat senggang atau saat Anda sedang sendiri, kandungan risalah ini layak Anda renungkan.


?


--akl-ms---gnlden.html

--all-permitted-lies-are.html

--amerika-qoshma.html

--appeasement---at.html

--april-2005-led-table-of.html